BAB 1
PENGEMBANGAN TENAGA PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Teknologi
pendidikan merupakan suatu bidang yang berkepentingan dengan pengembangan
secara sistematis berbagai macam sumber belajar, termasuk di dalamnya
pengelolaan dan penggunaan sumber tersebut. Teknologi pendidikan
mempunyai potensi untuk meningkatkan produktivitas pendididkan,
memberilkan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, memberikan
dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran, lebih memantapkan pengajaran,
memungkinkan belajar secara seketika, memungkinkan penyajian pendidikan secara
lebih luas terutama adanya media massa.
Beberapa konsepsi dasar dalam
teknologi pendidikan sebagai berikut: memberikan perubahan pada diri pribadi
anak didik melalui pendidikan. pendidikan berlangsung dan konsisten seumur
hidup (education along life), pendidikan terjadi kapan pun dan dimana pun,
kemandirian dan kefektifitasan pendidikan melalui pengawasan dan penilikan
berkala, baik dalam kelompok yang homogen atau heterogen, dan dapat diterima
baik dari siapa pun atau melalui apapun yang sengaja dirancang untuk diambil
manfaatnya.
Kegiatan profesional Teknologi
Pendidikan meliputi: 8 kategori kegiatan, yaitu:
1.
perencanaan program instuksional;
2.
pengembangan media pembelajaran;
3.
produksi media pembelajaran;
4.
pemanfaatan sarana pembelajaran;
5.
pelaksanaan kegiatan pembelajaran;
6.
penilaian program dan media pembelajaran;
7.
pengelolaan sumber belajar; dan
8.
penelitian proses, sumber, dan hasil belajar.
Tempat pelaksanaan PPL Teknologi Pendidikan adalah di lembaga-lembaga yang melaksanakan
fungsi pengelolaan dan pengembangan proses dan sumber belajar dalam konsep
teknologi pendidikan. Lembaga-lembaga itu dapat berupa lembaga pendidikan dan
pengembangan sumber daya manusia, atau lembaga produksi media pendidikan, atau
yang menyelenggarakan kedua fungsi tersebut. Pengembangan teknologi
pendidikan di IKIP Jakarta boleh dikatakan diawali pada tahun 1970, dengan
didirikannya Lembaga Teknologi Pengajaran (LTP) melalui Keputusan Rektor tertanggal
1 Maret 1970 No.14/SP/1970. LTP juga mendapat tugas mempersiapkan dibukanya
Departemen Teknologi Pengajaran pada Fakultas Ilmu Pendidikan.
Penyelenggaraan kegiatan
ini bekerja sama dengan Lembaga Media Pendidikan pada Badan Pengembangan
Pendidikan (BPP) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. BPP berubah menjadi
Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan (BP3K atau
Balitbang Dikbud) pada tahun 1974. Perencanaan awal untuk kegiatan pengembangan
program dan studi teknologi pendidikan dilakukan pada bulan April 1977. Pada
bulan Januari 1978 bantuan teknis dari Amerika Serikat mulai berfungsi.
Bantuan itu akan dikirimkan 20 orang tenaga dosen dan personel inti Satgas TKPK
untuk mendapat gelar Master di Syracuse University.
Tenaga pendidik dikelilingi
oleh sejumlah tenaga yang dapat dibedakan dalam empat kategori, yaitu
penyelenggara (pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar), peneliti
pengembang (pengujian, kurikulum, teknologi pendidikan, dll), dan pengelola
(pengelola satuan, penilik, dan pengawas). Keempat kategori tenaga ini
mempunyai fungsi utama menunjang pelaksanaan tugas tenaga pendidik. Dalam UUSPN
Pasal 30 setiap tenaga kependidikan yang bekerja pada satuan pendidikan
mempunyai hak untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan
yang lain dalam melaksanakan tugasnya. Sarana, prasarana, dan fasilitas
pendidikan itu perlu disediakan, dikembangkan, dan dimanfaatkan dengan
sebaik-baiknya agar diperoleh efektivitas dan efisiensi.
Tenaga profesi adalah
tenaga terampil, mahir, dan atau ahli dalam melaksanakan kegiatan perancangan,
pengembangan, pemanfaatan, penilaian serta pengelolaan proses dan sumber untuk
belajar. Jabatan Pengembang Teknologi Pendidikan berkedudukan pada lembaga
pemerintah maupun swasta yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan
pelatihan serta pengembangan system dan media atau produk pembelajaran,
termasuk pemanfaatan, penilaian, dan pengelolaannya.
Setiap profesi paling sedikit harus
memenuhi empat syarat. Pertama adalah pendidikan dan pelatihan yang memadai,
kedua adanya komitmen terhadap tugan profesionalnya, ketiga adanya usaha
mengembangkan diri sesuai dengan kondisi lingkungan dan tuntutan zaman, dan
keempat adanya standar etik yang harus dipatuhi. Mereka yang berprofesi atau
bergerak dalam bidang teknologi pendidikan, harus mempunyai komitmen dalam
melaksanakan tugas profesionalnya yaitu terselenggaranya proses belajar bagi
setiap orang, dengan mengembangkan dan menggunakan berbagai sumber belajar
dengan karakteristik masing-masing pembelajar serta perkembangan lingkungan.
Maka para teknolog pendidikan harus mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.
BAB II
PENGEMBANGAN KONSEPTUAL TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Berdasarkan tinjauan dari falsafah ilmu, setiap
pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyanggah tubuh
pengetahuan yang didukungnya. Ketiga komponen tersebut yang pertama,
ontologi (apa) merupakan asas dalam menetapkan ruang lingkup ujud yang menjadi
objek penelaahan, serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek
tersebut. Kedua, epistemologi (bagaimana) merupakan asas mengenai
cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh
pengetahuan. Ketiga, aksiologi (untuk apa) merupakan asas dalam
menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh
pengetahuan tersebut.
Landasan ontologi teknologi pendidikan, yaitu: adanya berbagai macam sumber
untuk belajar termasuk orang, pesan, media, cara-cara tertentu dalam mengolah
atau menyajikan pesan, serta lingkungan dimana proses pendidikan itu
berlangsung; perlunya sumber-sumber tersebut dikembangkan, baik secara
konseptual, maupun secara faktual; dan perlu dikelolanya kegiatan pengembangan,
maupun sumber-sumber untuk belajar agar dapat digunakan seoptimal mungkin guna
keperluan belajar.
Yang termasuk dalam suatu
landasan epistimologi teknologi pendidikan, yaitu keseluruhan masalah
belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan; unsur-unsur yang
berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistemik; dan
penggabungan kedalam proses yang kompleks dan perhatian atas gejala secara
menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal
dimana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri.
Perkembangan yang sangat
penting tetapi sering kali diajukan adalah bahwa teknologi pendidikan berusaha
memecahkan dan atau memfasilitasi pemecahan masalah belajar pada manusia dimana
saja, kapan saja, dengan cara apa saja, dan oleh siapa saja. Apa yang telah
berlangsung selama ini, terutama di Indonesia, masih menitik beratkan pada
pemecahan masalah dalam bidang persekolahan.Gambar berikut menunjukkan dimana
bidang garapan teknologi pendidikan itu seharusnya berkembang.
Romiszowski menyatakan perkembangan teknologi pendidikan seperti terlukiskan
dalam gambar berikut ini. Kalau kita perhatikan gambar diatas maka
jelaslah bahwa penerapan teknologi pendidikan tidak hanya pada pendidikan yang
pada umumnya berlaku di sekolah, atau pelatihan yang pada umumnya berlangsung
di lembaga pelatihan formal yang merupakan suatu bagian dari lembaga
penyelenggara kegiatan tertentu (departemen atau lembaga pemerintah, lembaga
bisnis, lembaga militer atau pun lembaga industri)
Kegiatan belajar tidak hanya dilakukan oleh dan untuk individu,
melainkan pula oleh dan untuk kelompok bahkan oleh organisasi secara
keseluruhan. Oleh karena itu harus mulai memikirkan ”the Learning
Organization”, sebagai perkembangan dari bidang garapan kita. Kebijakan
penggunaan media komunikasi merupakan awal teknologi pembelajaran secara
formal, meskipun masih dikaitkan identitas teknologi sebagai produk berupa
peranti (tools) yang digunakan dalam berbgai keperluan termasuk pendidikan.
Konsep teknologi (termasuk teknologi pembelajaran) kecuali sebagai produk juga
sebagai proses dan struktur. Jacques Ellul mengartikan
teknologi sebagai peranti, teknik dan keseluruhan struktur dalam masyarakat.
Kaum teknologi pembelajaran berpendapat bahwa teknologi pendidikan atau
pembelajaran merupakan bagian dari arti teknologi yang luas.
Dalam artian teknologi sebagai proses, maka pendidikan dapat dikatakan sebagai
salah satu teknologi, karena pendidikan itu merupakan proses untuk menjadikan manusia terdidik,
atau proses untuk memperolah nilai tambah (added value), sehingga dapat
dikatakan “education as technology”. Percival & Ellington
berpendapat bahwa teknologi pembelajaran merupakan technology of education.
Mereka yang berprofesi atau bergerak
dalam bidang teknologi pendidikan disebut Teknolog Pendidikan, harus mempunyai
komitmen dalam melaksanakan tugas profesionalnya yang utam yaitu
terselenggaranya proses belajar begi setiap orang, dengan dikembangkan dan
digunakannya berbagai sumber belajar selaras dengan karakteristik masing-masing
pembelajar serta perkembangan lingkungan. Karena lingkungan senantiasa berubah,
maka para teknolog pendidikan harus senantiasa mengikuti perkembangan atau
perubahan itu, dan oleh karena itu ia dituntut untuk selalu mengembangkan diri
sesuai dengan kondisi lingkungan dan tuntutan zaman, termasuk mengikuti
perkembangan ilmu dan teknologi.
Para profesi pada
saat ini telah menyebar keluar lingkungan pendidikan, yaitu pada lembaga
pelatihan, lembaga pemerintah, dan lembaga masyarakat, lembaga media massa,
serta lembaga atau organisasi bisnis dan industri yang berniat menjadi
organisasi belajar. Mereka berkarya dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan
belajar dan biasanya bekerja dalam satuan regu dengan aneka tugas, seperti
perancang pembelajaran, artis grafis, ahli media, ahli evaluasi, pemrogram
computer, dan lain sebagainya. Para guru pun sebagian menjadi peraktisi
teknologi pendidikan, yaitu dengan menerapkan kawasan pemanfaatan dalam konsep
teknologi pendidikan.
Teknologi pembelajaran secara
konseptual mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan organisasi belajar
dalam bentuk pengetahuan tentang pemecahan masalah belajar baik pada
perorangan, maupun pada keseluruhan organisasi; penyediaan tenaga profesi yang
mampu mengintervensi organisasi agar dapat dan mau belajar; aneka sumber
belajar yang sengaja dikembangkan sesuai dengan kebutuhan organisasi; dan
sistem informasi yang diperlukan agar organisasi dapat memperoleh akses atas
informasi yang terbaru secara cepat.
BAB III
PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Model teknologi pendidikan merupakan
model pendidikan konpensatoris bagi anak-anak yang mengalami hambatan sosial-ekonomi
dan geografis-demografis, agar dengan sumber yang berbeda dapat mencapai tujuan
pemerataan kesempatan pendidiakn yang sama dengan anak-anak yang tidak
mengalami hambatan. Model ini mengandung aspek kuantitatif, kualitatif dan
keserasian yang terjalin jadi satu. Model ini dapat ditunjukkan dengan
unsur-unsur yang membentuknya sebagai berikut:
A.
Sumber belajar sebagai produk yang memungkinkan
terjadinya tindak belajar
B.
Proses belajar mengajar berlangsung dengan
memerhatikan kondisi dan kebutuhan anak didik
C.
Struktur organisasi lembaga prndidikan mengalami
perubahan,dimana tumbuh pola instruksionalyang bervariasi,berbagai bentuk
lembaga pendidikan,dan tingkat pengambilan keputusan dalam proses instruksional
D.
Kewenangan dan tanggung jawab guru kelas mengalami
perkebangan,karena adanya tim pembelajaran yang memilih dan menyusun bahan
belajar.
E.
Fungsi pengembangan dilaksanakan dengan sistem untuk
menghasilakn sumber belajar serta untuk berlangsungnya sistem instruksional
yang efektif.
F.
Pengelolaan model ini dilakukan secara lues dengan
beriorientasikan tujuan.
Meskipun kedua istilah itu
dapat dibedakan karakteristiknya, namun kegiatannya dapat disatukan dalam
lembaga penyelenggara sebagai lembaga Diklat Kedinasan atau Aparatur. Fungsi
lembaga penyelenggara ini seharusnya merupakan agen pembaharu. Lembaga ini
perlu memahami perubahan dalam lingkungan strategis, dan kemudian mampu
menganalisis dampak perubahan itu dalam lingkungan organisasinya. Setelah itu
mempersiapkan dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang sesuai hasil
analisisnya.
Sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh dirancang untuk melayani peserta
didik/warga belajar dalam jumlah yang besar dengan latar belakang pendidikan,
usia, dan motivasi yang beragam, bertempat tinggal dalam wilayah yang tersebar
luas, dan mempunyai waktu yang terbatas untuk melakukan komunikasi tatap muka.
Untuk mengatasi batasan jarak, tempat dan waktu untuk melaksanakan proses
pembelajaran, sistem pendidikan yang secara khusus diberdayakan untuk keperluan
itu. Bilamana kondisi dan fasilitas memungkinkan, maka penyelenggaraan sistem
pendidikan terbuka dan jarak jauh ini didukung dengan sistem operasional yang
berbasis teknologi komunikasi dan informasi.
BAB IV
PRNGEMBANGAN SISTEM
PEMBELAJARAN
Hampir dapat
dipastikan Indonesia sebagian besar memiliki satelit domestik untuk
telekomunikasi. Indonesia merupakan negara berkembang pertama yang memiliki
satelit dan kedua negara Kanada yang telah menggunakan satelit domestik yang
dikenal dengan “ANIK”. Perkembangan teknologi komunikasi ini membuka wawasan
yang luas dalam dunia pendidikan dalam pemanfaatannya. Setelah perkembangan
teknologi komunikasi di Indonesia, teknologi sudah menjadi kebudayaan di negara
Indonesia ini. Bahwa sejak PELITA I hingga IV telah banyak diberikan perhatian
akan pengembangan dan pemanfaatan teknologi komunikasi untuk pengembangan
pendidikan dan kebudayaan. Namun, dengan kondisi yang seperti ini, bahwa
tuntunan dalam pendidikan yang lebih bermutu dan lebih bersedia (accessable) semakin
meningkat, diperlukan perhatian dan penanganan yang lebih besar lagi.
Indonesia sebagaimana negara yang penduduknya semakin berkembang dan bertambah
dan berbagai tantangan dan rintangan yang dihadapi. Pada negara maju, proses
kemajuan itu berlangsung secara bertahap dan dalam waktu yang relatif lama
serta serentak diikuti dengan tumbuhnya pranata-pranata yang diperlukan.
Sedangkan pada negara yang berkembang proses itu berlangsung secara seketika
sebalum tatanannya selesai dipersiapkan atau dibenahi dan sebelum sumber daya
manusianya mampu menerima dan menyesuaikan diri. Dalam hal ini, sumber daya
manusia sangatlah penting dalam mewujudkan modal dasar pembangunan yang akan
dilakukan. Pengembangan kualitas ini mengandung dua sisi yaitu;
Pertama, kualitas
hidupnya sebagai manusia yang tercukupi, Kedua, kualitasnya
sebagai modal untuk melaksanakan pembangunan yang memenuhi persyaratan
kebutuhan. Pendidikan untuk pengembangan kualitas manusia meliputi segala aspek
perkembangan manusia dalam harkatnya sebagai makhluk yang berakal budi, sebagai
pribadi, sebagai warga masyarakat, dan sebagai warga negara. Sehingga
pendidikan yang paripurna akan meliputi usaha pengembangan jasmani dan rohani,
kepribadian, kemasyarakatan, kebangsaan, kekayaan atau sebagai peningkatan
kualitas fisik dan nonfisik, yang meliputi kualitas pribadi, kualitas hubungan
dengan pihak lain dan kualitas kekayaan.
Secara umum perkembangan
dalam era informasi menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut;
1.
Meningkatkan daya muat untuk mengumpulkan,
menyimpan,memanipulasikan dan menyajikan informasi.
2.
Kecpatan penyajian informasi yang meningkat.
3.
Maniaturasi perangkat keras yang disertai dengan
kesediaan yang melimpah
4.
Keragaman pilihan informasi untuk melayani berbagai
macam kebutuhan
5.
Biaya perolehan informasi,terutama biaya untuk
transmisi data yang cepat dan jarak jauh,yang secara efektif semakin terun.
6.
Kemudahan penggunaan produk teknologi komunikasi dan
informasi,baik berupa perangkat keras maupun perangakat lunaknya.
7.
Kemampuan distribusi informasi yang semakin cepat dan
lua,dan karena itu informasi lebih mudah diperoleh.
8.
Meningkatkan kegunaan informasi dengan keanekaragaman
pelayananysng dapat diberikan,hingga memungkinkan pemecahan masalah yang ada
secara lebih baik serta dibuatnya prediksi masa depan yang lebih tepat.
Dalam pendidikan tenaga
ini adalah tenaga yang ahli dalam teknologi pendidikan sesuai dengan profesinya
dan keahliannya. Pengembangan tenaga ahli dalam rangka peningkatan
profesionalisme pengelolaan perguruan tinggi. Bahwa kemampuan dalam disiplin
ilmu merupakan hal yang terpenting bagi dosen dalam menjalankan tugas mengajar.
Karena adanya kekecewaan, timbullah berbagai usaha untuk mengatasinya. Setelah
perkembangan teknologi dan informasi, kemudian masalah tenaga mengajar dalam
peningkatan mutu pendidikan. Didalam tenaga mengajar banyak asumsi-asumsi yang
diperbincangkan dan keanekaragaman dalam perubahan-perubahan yang dialaminya.
Konsep mengenai
peningkatan mutu pendidikan jika diartikan akan berbeda-beda pengertian, sesuai
dengan situasi dan kondisi tertentu. Kriteria mutu dapat dijelaskan dalam lima
hal yaitu kesesuaian, daya tarik, efektivitas, efesiensi, dan produktifitas.
Kemudian selanjutnya mengenai strategi pembelajaran yang berkaitan denga
peserta didik yang akan dituju. Pemilihan strategi pembelajaran didasarkan pada
pertimbangan berikut;
a.
Tujuan belajar : jenis dan jenjangnya
b.
Isi ajaran : sifat, kedalaman, dan banyaknya
c.
Pembelajar : latar belakang, motivasi, serta kondisi
fisik dan mental
d.
Tenaga kependidikan : jumlah, kualifikasi, dan
kompetensinya
e.
Waktu : lama dan jadwalnya
f.
Sarana yang dapat dimanfaatkan
G.
Biaya
BAB V
Perspektif Teknologi
Pendidikan untuk Pembangunan Pendidikan
Perkembangan masyarakat
akan membawa pengaruh terhadap perkembangan nilai, prinsip, dan prosedur dalam
pendidikan. Beberapa kencederungan baru yang dijadikan dasar pertimbangan
perlunya adanya usaha transformasi yaitu belajar menyelidik, belajar mandiri,
belajar struktur bidang studi, belajar mencapai penguasaan, pendidikan untuk
perkembangan kepribadian, pendekatan sistem, persebaran waktu, persebaran
tempat, keanekaragaman sumber, deferensiasi peranan, Ekonomi pendidikan, dan
perkembangan teori dan prinsip.
Masalah teknologi pendidikan merupakan masalah yang baru kita dengar mungkin
dalam hal ini akan tetapi sebenarnya sudah terdapat dalam kehidupan kita
sehari-hari. Sehingga munculnya beberapa alternatif dalam pendidikan seperti,
sekolah publik pilihan, sekolah pendidikan swasta, dan pendidikan di rumah.
Pendidikan alternatif tersebut merupakan sesuatu yang secara sengaja dan sadar
dirancang untuk berbagai keperluan yang belum terpenuhi oleh pendidikan
reguler. Tindakan ini tentu mempunyai pertimbangan yang mendasar. Tindakan
untuk mengambil pendidikan alternatif harus dapat diambil jalan yang mendasar
secara falsafah dan teori agar tidak salah pada jalur yang ditempuh.
Pertimbangan- pertimbangan ini didasarkan pada keadaan dan kondisi yang
berbeda- beda pada setiap manusia. Yang berjalan seperti pada tokoh-tokoh pada
zaman awal tentang pendidikan pesantren sampai pendidikan pada zaman sekarang
yang mengalami berbagai macam perubahan-perubahan. Tantangan yang amat besar
dan berat untuk mempertahankan semua ini bagi pemuda bangsa dalam
mempertahankan warisan oleh para tokoh pejuang zaman dahulu. Sikap dan
tanggungjawab ilmiah mahasiswa dalam membangun masyarakat baru Indonesia
dalam perspektif pendidikan.